Di sini Engkau beristirahat dengan tenang.

January 1st, 2009 by chondroz

Panas sedikit menyengat di kulit..
Dengan pohon Kamboja yang melindungi kami diantara gundukan makam-makam tua…
Ku melangkah ke satu makam yang masih baru..
Ya… terbilang baru karena baru berumur 2 minggu…
Assalamu’alaikum ya Ahli kubur Santi Rahayu…. salam ku sambil kupegang nisannya….
Nisan ini terukir namamu
SANTI RAHAYU Binti TARYANTO
lahir 17-08-1981
Wafat: 03-12-2008

Engkau masih muda sekali dengan dua orang anak yang engkau lahirkan…
Engkau telah mempercayakanku sepenuhnya untuk menjaga dua buah hati kita…
Hati mana yang tak pilu, engkau terbujur kaku didalam tanah ini …

Semoga cahaya kebaikanmu di dunia sebagai penerangmu disini..
Semoga amal ibadahmu sebagai temanmu disini…
Semoga Do’a kami akan melapangkanmu dialam ini..
Semoga pengorbananmu mendapatkan tempat terbaikmu disini….

Setiap jiwa pasti akan merasakannya.
Merasakan satu hal yang mereka sebut sebagai kematian.
Setidaknya memang begitulah yang Allah katakan dalam firman-Nya.
Dan kamipun menyadari sepenuhnya.

Kupegang Nisan ini seakan merasakan memegang keningmu….
Do’a dan harapan ku panjatkan untukmu…
Ikhlas ku rela mendahului kami agar kau tenang
Semoga anakmu kelak menjadi anak yang sholeh dan sholehah
Dimana akan menjadi penyelamat kita di akherat nanti..
InsyaAllah….

Ku beranjak dari tempatku…
Kulangkahkan kaki ini dengan segala harap dan asa…
Melangkah dalam rahmat dan ridha-Nya.
Semoga dipermudah segalanya…di ringankan segala urusannya…

Aku mengharapmu yaa Rabb …
Untuk hidup yang lebih baik. InsyaAlloh …

Cirebon, 11:30AM, 25 Dec 08

semua yang tercipta pasti akan kembali kepadanya..

December 25th, 2008 by chondroz

Cirebon, 03/12/2008

Pagi itu raut muka kembali bersinar…
rasa sakit kau simpan agar kekhawatiranku membias…

Selamat pagi sayang….

sembari kukecup kening yang dingin itu…
kau paksakan semuanya kembali pulih…
kau paksakan memegang dan mencium tanganku dengan tangan yang bergetar…
maafkan abi, bunda…

sesaat Hp ku berbunyi, nampak profile ibu di display..
” ada apa mak..(ibu)..”
” Santi gimana ..???”
” Udah baekan mak..” sudah banyak perkembangannya”

” Can,… Aflah demam tinggi…. bisa ke Jakarta hari ini, can..?
besok ke Cirebon lagi …”
” inngih mak..”

Aflah anak keduaku demam tinggi, cemas dan bingung kurasakan…

“Bunda.. Aflah sakit demam, abi boleh pulang sebentar…?
“Besok pagi Abi ke sini lagi…Boleh ..??

“Boleh…” itulah ucapan yang aku dengar.. kuliat kecemasan didinginnya raut muka dan kecemasan hatimu..

Kucium kembali dahi istri yang mulai berkeringat dingin…. kugenggam erat tanganmu..
Inilah saat yang sangat di sukai rasul kita… bermesraan dengan istri adalah sadakah ..
saat tangan suami istri saling menggenggam InsyaAllah dari sela-sela jari bergugurlah dosa-dosa kita…

Saat berpamitan kau paksakan untuk memeluk dan mencium tanganku..
dengan berbisik..
“maaf ya abi,….” hanya itu yang aku dengar…
tak kurasa titik-titik air mataku bergerai..”

Iya … abi juga minta maaf ya.. bunda….
Abi .. ke jakarta dulu …. besok abi pasti kecirebon lagi…

Anggukan dan tatapan mengiringiku meninggalkan kamar perawatan… walau hati ini sedikit resah…
Resah, khawatir, bingung….
Disisi istriku terbaring lemah di Rumah sakit Cirebon…
di sisi lain puteraku demam tinggi…yang mana belum kuketahui persis keadaanya…

Jam 7 malam ku sampai jakarta…
kupeluk erat anak kedua ku…
badannya panas dan rintihan terus kau ucapkan…
pujian dan do’a terus kupanjatkan untuk-MU…
memohon… menangis… hanya Engkaulah sang maha Penyembuh….

Alhamdulillah jam 9 malam Aflah sudah tenang dan tertidur… walau masih sedikit demam…
ku peluk dan kuliat kedua anak ku yang tertidur pulas…
Terima kasih Ya Allah…. kau telah memberikan buah hati yang sangat cantik dan tampan…
kukecup kening putri pertamaku Najwa dengan barisan do’a agar kelak menjadi mujahidah yang berkualitas…
menggeliat tubuhnya karena kecupanku… seakan merasakan akan kehadiranku….

Tak lama kemudian… Hp ku berbunyi kali ini dari Ayah Istriku…

“Ya pak.. ada apa….”
“Candra… Santi sekarang kritis…”
Terperanjat ku dari tempat tidurku….
“Dokter ada di situ pak…?”
“Iya… sekarang sudah di tangani..”

Cemas,…khawatirr,…Bingung,…. seakan menyerah dan menghantam tubuhku dari segala arah…
Berdo’a .. berdo’a dan terus ku berdo’a …
Semuanya ku serahkan kepadamu ya Allah…
Engakulah sang maha Penyembuh…
Engakulah sang maha Keputusan…
Jika Engkau berkehandak menyembuhkan maka sembuhkanlah segera ya Allah….
Hamba tidak pernah tahan melihat orang tersayang hamba menggigil, meradang, kadang menangis menahan sakit…

Jam 10 malam kembali ku hubungi Ayah istriku…
Sekarang Istriku dalam keadaan taksadarkan diri….
Istriku dalam keadaan koma….
Ya.. ALLAH…. jangan kau siksa istri hamba ini ya Allah…

Ya Allah… jika engaku belum menghendakinya…Sembuhkanlah kembali istriku ….
Jika engaku sayang padanya… Ambilah ya Allah dalam keadaan khusnul khotimah ..
Ambilah dengan sebaik-baik hambaMu ya Allah….
segala do’a dan pujian terus mengalir di hati….
memohon yang terbaik bagi kami dengan kuasa-Nya…

kurang dari satu jam… Dokter yang merawat istriku menelpon…
Asaku mulai timbul… semoga semuanya lancar….

“Hallo.. Dok..”
“Pak candra… mohon maaf… Istri bapak sudah tidak ada…
kami telah berusaha semampu kita pak…”

badanku tak terasa… Hatiku bergunjang…. kosong… semuanya kosong…
dengan lirih kuucapkan.. Innalilahi wa innalilahi roji’uun…
“Terima kasih Dok…” seraya tubuhku melayang tak tersasa…
ku tersungkur ditubuh Ibuku dengan dengan tangisan yang tak pernah ku lakukan semenjak Meninggalnya Ayahku..
Tangisan kehilangan… Tangisan yang terbendung…
Rasa bersalah menyelimuti diri…
Disaat istri sedang berjuang dengan maut… aku suaminya tak ada disampingnya….
Ya Allah… Apakah ini yang terbaik bagi kami ya Allah….
Jika Iya.. Saya dan Anak-anak saya akan ikhlas dengan kejadian ini…
Tapi tabahkanlah kami ya Allah…
Kuatkan hati kami ya Allah…

Santi….
Ternyata…. Ciuman itu adalah ciuman terakhir darimu….
Ternyata…. Senyuman itu adalah senyummu yang terakhir untukku…
“maaf ya abi”….iya Kata-kata itu adalah kata-kata terakhir yang keluar dari sudut bibirmu..

Terima kasih Santi…istriku
Kau telah memberikan dua buah hati sebagai penggantimu…
Kan kujaga dia dengan segala kemampuanku…
kau telah menemaniku disaat senang dan sedih…
melayaniku… menasehatiku…
membangkitkanku pada saatku jatuh….
memberiku semangat saat ku terpuruk…
Allah sangat sayang padamu sehingga kau lebih cepat disisiNya.

Semoga kau lapang dialam-Nya…
mendapatkan tempat yang terbaik…
jauh dari siksa kuburmu…
Abi akan mencoba Ikhlas agar kau tenang disana…

semua yang tercipta pasti akan kembali kepadanya..

Abi sangat sayang Bunda…..
Terima kasih Bunda….

Amanahku amanah Keluargaku..

July 3rd, 2008 by chondroz

Alhamdulillah … putra keduaku telah lahir dengan sehat. Maha Sempurna telah kau ciptakan titipan kepadaku.
Sebelumnya putri cantikku Najwa Asyifa Candra Khairunnisa sejak 19 Juli tahun lalu menemanikami dengan manjanya dan gurauannya yang dapat menghilangkan rasa jenuhku seharian di kantor.
kini  Muhammad Aflah Candra Khairunannam yang lahir 27 Juni kemarin menambah kerinduanku pada keluargaku ini. Maha pengasih engkau ya Allah telah memberikan kasih sayang mu kepada kami.
Kami tak kan bisa menggapai cita-cita kami tanpa ridhoMu. Amanah yang beri tak kan kupandang beban di pundak, namun sebagai tempat menampung amal yang sebagai bekal kami kelak.
Ya Allah karuniakan kami dengan Iman dan takut kepada-MU, karuniakan kami
dengan rezeki-Mu yang tanpa batas. Amien

Maafkan Ayah …

June 6th, 2007 by chondroz

Lebaran telah tiba. Badanku sudah mulai sehat.
Satu bulan ramadhan telah aku lewati dengan penuh kesungguhan.
Beberapa kultum di masjid pun aku lakukan. Dzikir dan do’a aku panjatkan pada istri dan anak-anaku tercinta.
Hampir 3 bulan lamanya aku terbaring di Rumah sakit karena penyakit Diabetes yang menyerangku selama hampir 10 tahun lamanya.
Hatiku senang dan gembira.
Semua anggota keluarga berkumpul apalagi anak ketigaku dari jakartapun pulang mudik.
Besok adalah acara takziyah, acara rutin yang kita lakukan dan sungkem ke orangtuaku yang berada di desa kelahiranku.
Hatiku senang melihat keluargaku berkumpul, entah mengapa hati ini sangat rindu sekali akan suasana seperti ini.
Pagi hari kami bersiap untuk untuk pergi, segala perlengkapan telah terkumpul semua dan kamipun berangkat dengan mobil yang kami sewa dengan penuh canda dan tawa.
Entah mengapa hal ini membuat hatiku senang sekali apalagi ketika anakku yang kelima menjadi bahan ledekan kakak-kakaknya dan aku sendiri. Seperti biasa istriku pasti yang jadi pembela untuk anak terakhirku ini. Lucu sekali dia dengan muka manja itu.
Tak terasa juga kelima anaku telah tumbuh dewasa.
Tak terasa juga aku menjalani kehidupan bersama istriku selama 27 tahun lamanya.
Tak terasa juga aral dan rintangan aku jalani bersama keluarga ini.
Dengan istri yang selalu memberi dukungan dan semangat hidup ini.
Dengan istri yang tegar dan kuat membantuku siang dan malam.
Dengan istri yang selalu memberikan perhatian ekstra baik kepada ku dan anak-anakku.
Kupandangi Istriku dengan rasa cinta dan kasih sayang.
Entah mengapa hati ini begitu rindu akan suasana seperti ini.
Sekitar 6 jam perjalanan kita telah sampai di tujuan.
Iya sebuah tempat pemakaman Ibundaku tercinta telah meninggalkan dunia ini beberapa bulan yang lalu.
Kita pun memanjatkan do’a dan menabur bunga.
Aku sempat berpikit bahwa Kematian adalah suatu kepastian, sama dengan kepastian matahari yang terbit di sebelah timur dan tenggelam di sebelah barat.
Tetapi, karena hubb dunya (pengaruh kehidupan dunia), maka kematian itu pula yang paling banyak dilupakan manusia.
Dari sinilah Rasulullah saw. menganjurkan agar umat Islam berziarah ke kuburan.
Dalam hadis riwayat Muslim, Ahmad, dan Ashabus Sunam berbunyi, “Dahulu saya melarang menziarahi kubur, sekarang berziarahlah ke sana, karena yang demikian akan mengingatkanmu pada hari akhirat.”
Setelah selesai kamipun beranjak untuk menuju rumah orangtuaku yang berjarak duaratus meter dari pemakaman umum ini, rumah yang melindungiku dari panas dan hujan ketika aku kecil hingga dewasa.
Saudara pun menyambut kedatangan kami dengan hati penuh rindu dan bahagia.
Kamipun masuk ke dalam rumah yang sudah jauh berbeda saat ku meninggalkan desa kelahiranku tigapuluh tahun yang lalu.
Wajah ayah masih kelihatan segar walau sudah berusia tujuhpuluh tahunan.
Kami pun sekeluarga di jamu dengan makanan yang istimewa gule kambing ditambah ayam goreng dan sayur cabe kesukaanku.
Kamipun menyantap hidangan dan dipenuhi canda tawa ayahku, adikku, keponakanku dan keceriaan keluargaku. Tanpa sadar dua piring nasi telah aku habiskan dan semangkok gule kambing dan ayam goreng aku santap dengan lahapnya.
Entah mengapa hati ini begitu rindu akan suasana seperti ini.
Sambil bercanda karena tak lama bersua dengan sanak saudara
Kulirik anakku yang pertama kulihat di wajahnya ada beban pada dirinya, pekerjaan yang mungkin sulit di terimanya, dia hanya seorang security pada suatu bank swasta dimana Gelar sarjana ekonominya tak dapat menolong banyak di Bank tempatnya bekerja, harapan besar dari kami adalah sebagai batu loncatan untuk bekerja di Office.
Tak jauh berbeda dengan anak keduaku, ya pekerjaan securitypun juga dia lakoni.
Hanya harapan kami kepada perusahaan PLTU agar gelar Ahlimadya Kimianya dapat membantu pekerjaan lebih baik.
Ku tarik nafasku dalam-dalam penuh keikhlasan akan jalan kehidupan yang mereka jalani.
Aku yakin sang khalik pasti memiliki rencana yang sempurna pada kedua anakku kini.
Tak terasa waktu siang hampir bergulir, kami pun berpamitan kepada sanak saudara dan tetangga yang kebetulan lewat. Dan kamipun pergi meninggalkan desa kelahiranku.
Setelah kami sampai di rumah, kami sibuk dengan diri kita masing-masing untuk membersihkan badan kita. Dan Sholat Isya’
Kulihat anak ketigaku beranjak tidur karena besok pagi dia akan berangkat kembali ke jakarta.
Dan akupun tidur setelah sholat isya.
Shubuh telah berkumandang akupun beranjak ke mushala kecil di rumah kami untuk sholat shubuh.
Ku berdo’a dan berdzikir melafadzkan nama sang pemberi kehidupan.
Ku berdo’a agar kami mendapatkan rahmah dan barokah dari sang pengasih lagi maha penyayang.
Kulanjutkan dzikirku di kamar disudut tempat tidurku.
Tak berselang lama anak ketigaku pun berpamitan untuk pergi ke jakarta. di ciumnya tangan dinginku dan kedua pipi keriputku dengan kasih sayang seorang anak. Ada kedewasaan yang ada pada dirinya dan juga sesuatu yang terpendam.
Suatu masalahkah…..
Entah mengapa hati ini begitu rindu akan suasana seperti ini.
Pukul sepuluh pagi entah mengapa hatiku terasa resah.
Kuraih sebuah sabit di garasi dan ku menuju ke kebun kesayanganku disebelah kebun kosong yang kutanami macam-macam tanaman untuk mengisi kekosongan waktuku.
Beginilah kuhabiskan waktuku untuk membersihkan lingkungan rumah walau nasehat istriku yang sering melarangku untuk melakukan ini karena kawatir akan kondisiku.
Sapaan hangat dan sendau gurau dari para tetangga yang sedang melintas di depan jalan kebun ini.
Tak terasa kumandang dhuhur telah tiba, ku bergegas masuk kedalam rumah untuk menunaikan
kewajibanku kepada sang rabb. Di ruang keluarga telah berkumpul semua keluargaku dan akupun bergabung disana. Dan kududuk diantara mereka sambil ngobrol kesana kemari
Entah mengapa hati ini begitu rindu akan suasana seperti ini.
Ketika kami sedang bersenda gurau tiba-tiba ‘Aach sakit sekali badan ini, betapa sakitnya badan ini hingga ku tak sanggup berteriak’.
Jantungku terasa sakit sekali…. Dan akupun tidak dapat berkata apa-apa.
Istriku…..
Anak-anaku….
Oh..Sakiiit sekalii…
Jiwaku…..
Rohku….
Seolah-olah ditarik dari bawah….
Aaaach….. sakit sekali….
Aku mengerang dalam hati tak kuasa menahan sakit yang luar biasa
Apa yang sedang kualami…
Apakah ini….
Apakah maut yang sedang kualami.
Istrikupun menghampiriku dengan panik menanyakan keadaanku…
Istriku….. oh…. aku hanya berteriak dalam hati…
Sakiit sekaliii….
Aku tak sanggup menahannya… sampai aku tak dapat ucapkan kata-kataku…
Ini memang maut yang kualami…
Ya.. sebentar lagi ajal akan menghampiriku…
Kupandang istriku dan anak-anakku yang mulai panik akan keadaanku
Istriku….
oh… kau istriku yang sangat baik untuk diriku…
terima kasih telah menemani hidupku selama duapuluh tujuh tahun ini…
kau istriku yang sangat kuat…
kutitipkan anak kita kepadamu…
Anak-anakku …..
Maafkan ayahmu …..
kau masih sangat muda masih banyak pelajaran yang belum kau terima dari ku…
Maafkan ayah….
Karena tidak dapat menemani kalian untuk mengarungi kehidupan yang sementara ini
Sekali lagi Maafkan ayah ….
Kulihat semua keluargaku yang cemas dan menangis …
Jam setengah satu aku menghembuskan nafas terakhirku.
Aku akan beristirahat dan meninggalkan dunia yang sementara ini untuk selamanya.
Maafkan Ayahmu ini yang tidak bisa menemani kalian, bermain dengan anak-anakmu.
Ayah cinta kalian dan sangat menyayangi kalian, tapi Allah maha pengasih lagi maha penyayang, Allah tak mau memberi beban lagi kepada kalian akan kesehatanku yang lemah ini.
Terima kasih semuanya, atas perhatian kepada ayah, kasih sayang kalian kepada ayah.
Ayah akan selalu mencintai kalian selamanya.
Ayah akan selalu menyayangi kalian selamanya.
Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kalian pada saat kalian mengumpulkan bekal hidup yang sementara ini.
Semoga Allah memberikan ketabahan yang kuat untuk kalian semua.
Kalian harus meneruskan hidup sampai Allah akan memanggil kalian sehingga nanti kita bisa bersatu disatu tempat yang akan telah diberikanNya.
Anak-anakku jagalah diri kalian semua tolong jagalah ibumu,
Semoga kelak nanti kita pasti akan bertemu dan berkumpul di alam kekal nanti.
Semoga Allah menyatukandan mengumpulkan kita pada suatu saat nanti, di suatu tempat yang paling mulia di sisi-Nya.
InsyaAllah.

Wassalam

Dari anak ketigamu yang selalu merindukan nasehat yang kau paparkan dengan bijak.
Dari anak ketigamu yang selalu menyayangi mu
Kita akan selalu mendo’akan mu
Semoga kita berkumpul di suatu tempat yang mulia kelak seperti kita inginkan bersama